Selasa, 16 Februari 2010

Lubuklinggau kota sebiduk Semare


WALIKOTA DAN WAKIL WALIKOTA LUBUKLINGGAU
PERIODE 2008 - 2013



Sjarah singkat kota Lubuklinggau

Tahun 1929 status Lubuklinggau adalah sebagai ibu kota marga sindang kelingi ilir, dibawah Onder District Musi Ulu. Onder District Musi Ulu sendiri ibu kotanya adalah Muara Beliti. Tahun 1933 Ibu kota Onder District Musi Ulu berpindah dari Muara Beliti ke Lubuk linggau.

Tahun 1942 – 1945 Lubuklinggau Menjadi Ibu kota Kewedanaan Musi Ulu dan dilanjutkan setelah Kemerdekaan. Pada waktu Clash I tahun 1947, Lubuklinggau Di jadikan Ibu Kota Pemerintahan Provinsi Sumatra bagian selatan .

Tahun 1948 Lubuklinggau Menjadi Ibu Kota Kabupaten Musi Ulu Rawas dan tetap sebagai Ibu Kota Keresidenan Palembang. Pada tahun 1956 Lubuklinggau Menjadi Ibu kota daerah Swatantra Tingkat II Musi Rawas.

Tahun 1981 dengan peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 tanggal 30 Oktober 1981 Lubuklinggau di tetapkan statusnya Sebagai kota Administratif.

Tahun 2001 dengan Undang – Undang Republik

Indonesia Nomor 7 tahun 2001 tanggal 21 juni 2001Lubuklinggau Sttusnya di Tingkatkan Menjadi Kota. Pada tanggal 17 Oktober 2001 Kota Lubuklinggau diresmikan menjadi daerah otonom.

Wisata Kota Lubuklinggau

AIR TERJUN TEMAM






Lokasi Air Terjun Temam memang terbilang dekat bagi warga Lubuk Linggau. Tempat wisata alam ini terletak enam kilometer dari ruas jalan lintas Sumatera di kawasan Kota Lubuk Linggau. Agar bisa sampai ke lokasi air terjun, dari jalan besar itu pengunjung berbelok ke arah utara melalui jalan masuk ke Bandar Udara (Bandara) Silampari. Lapangan terbang itu sendiri sejak beberapa tahun lalu telantar karena tidak dioperasikan.
Jalan masuk ke arah Bandara Silampari dan Air Terjun Temam hanya sekitar 10 kilometer dari pusat Kota Lubuk Linggau.Selain menikmati Air Terjun Temam di aliran Sungai Temam tersebut, pengunjung juga bisa merasakan pesona lain berupa ketegangan berdiri di atas jembatan gantung. Dari jembatan gantung sepanjang 100 meter yang melintang di atas sungai itulah pengunjung bisa melihat air terjun hanya dalam jarak sekitar 50 meter.

WaterVang


p8143278_rsz_tn_tn

Objek wisata ini adalah bangunan bendungan air Sungai Kelingi yang dibangun oleh Pemerintah Belanda pada tahun 1941. Fungsi utamanya sebagai pengairan persawahan yang luasnya ± 8.000 ha yang terletak di kawasan sepanjang Sungai Kelingi Kota Lubuklinggau sampai ke Kecamatan Tugu Mulyo dan Megang Sakti Kabupaten Musi Rawas.

Di samping fungsi utama bendungan sebagai pengairan persawahan juga objek wisata, yang akan memberikan nuansa tersendiri bagi para pengunjung. Watervang juga, memiliki nilai historis bagi bangsa Indonesia pada umumnya dan kabupaten Musi Rawas serta Kota Lubuklinggau pada khususnya.

Objek wisata ini terletak ± 5 km ke arah timur pusat Kota Lubuklinggau. Untuk mencapai objek wisata tersebut hanya memerlukan waktu ± 15 menit dengan kendaraan roda dua atau roda empat.

Objek wisata ini sudah dikenal luas oleh warga masyarakat Kabupaten Musi rawas, Kota lubuklinggau, Sumatera Selatan dan sekitarnya.

(Sumber : www.visitmusi2008.com)

Bulan Agustus’2008 kemarin, g travelling ke Palembang…tepatnya ke Lubuk Linggau! Ikutan teman mudikz ke kampungnya, sekalian g pengen tau Palembang! ^^

So…perjalanan g dimulai dr Bandara Soekarno Hatta…pesawat delay ngk tanggung-tanggung 4 jam lebih!! dr jadwal yg seharusnya jam 10 akhirnya br ada jam 2! padahal g uda dr jam setengah 8 tiba di bandara!! Mo ngamuk ngk tuh?! #_# Untungnya dikasih makan siang loh…lumayan deh dapet hokben!^^ Akhirnya jam 3 an qt sampe di Bengkulu. Oya, Lubuk linggau itu lebih dekat ke bengkulu di banding ke palembang. Kl dr bengkulu cuma 4 jam perjalanan sedangkan kl dari palembang 8 jam. Sesampainya di bandara Bengkulu, qt naik travel. Harganya lumayan jg…55rb sampe depan rumah n akhirnya qt sampe di Lubuk Linggau itu jam setengah 8 malam.

Esok harinya qt baru keliling di kota Lubuk Linggau…jalan kaki menelusuri jalan-jalan di pasarnya…sampe qt mengunjungi sekolah temen g dulu..lumayan deh jaraknya…pulangnya qt naik becak krn udah ngk kuat jalan..ha3 Sorenya g baru ke air terjun Watervang ini….

Sayangnya…pas g kesana, bendungan tersebut lg kering bgt!! Temen g aja sampe heran, baru kl ini bendungan tersebut bisa kering bgt! (See d picture below…)

p8143280_rsz_tn p8143347_rsz_tn

p8143290_rsz_tn p8143294_tn_tn

Pemandangan di Watervang ini cukup indah…n tempatnya cukup enak utk refresing…kumpul-kumpul atopun piknik! Gratiz lagi masuknya!!^0^

p8143356_rsz_tn_tn

Jembatannya rada nyeremin ya?!

G pun menelusuri Watervang ini dan turun ke kali nya…kl air terjun nya ngk kering, mungkin g ngk bisa turun n main di kalinya…he3 Selain g yg main di kali…Ada juga loh yg lagi menjala ikan…kira-kira dpt ikan apa yaaaaa….

p8143343_rsz_tn_tn

p8143338-copy_tn_tn

Jalan-jalan di sekitar Watervang…

p8143302_rsz_tn_tn p8143308_rsz_tn_tn

p8143311-copy_tn_tn


Bukit Sulap Lubuklinggau

Bukit Sulap merupakan salah satu objek wisata alam andalan kota Lubuklinggau, dengan ketinggian ± 700 m dari permukaan laut dengan tumbuh-tumbuhan yang alami dan asri serta bertemperatur udara yang sejuk, para wisatawan dapat leluasa memandang keindahan alam Kota Lubuklinggau, dan pada malam hari Kota Lubuklinggau terlihat sangat indah dengan gemerlap lampu-lampu dari rumah penduduk maupun lampu-lampu jalan.


Kawasan objek wisata Bukit Sulap terletak ± 2 km dari pusat Kota Lubuklinggau , salah satu alternative menuju lokasi pengunjung dapat melalui jalan Bengawan Solo yang berada di keluarahan Ulak Surung, Kec Lubuklinggau Utara II, dari pangkal jalan Bengawan Solo menuju titik pendakian sekitar berjarak 400 meter. Untuk sampai kepuncaknya membutuhkan waktu ± 1 jam berjalan kaki melalui jalan setapak berbatu dan tanah. Bukit sulap ini cukup menantang bagi wisatawan dan pencinta alam yang senang berpetualang, Bukit sulap juga sering di gunakan untuk kegiatan Outbound, perkemahan, maupun berbagai kegiatan penjelajahan alam terbuka.

Dalam rangka mengenalkan Kota Lubuklinggau Khususnya Wisata alam Bukit Sulap kepada masyarakat Indonesia dan Internasional, beberapa waktu lalu ( 13 – 15 November 2009) Bukit Sulap di gunakan sebagai lokasi Kejuaraan Nasional Mountain Bike 2009, yang di ikuti perserta local, Nasional maupun Internasional.

Yang tidak kalah menariknya di lereng Bukit Sulap terdapat sungai Kesie dengan air yang bening, airnya mengalir di sepanjang sungai tersebut dengan panorama alam yang indah sehingga Bukit Sulap akan memberikan ketenangan dan kesejukan tersendiri sebagai objek wisata bagi para pengunjung ataupun wisatawan.
Di lereng Bukit Sulap juga terdapat situs berupa 4 (empat) buah kuburan, kuburan itu diberi nama kuburan Bujang Kurap, bahkan oleh sebagian masyarakat Kabupaten Musi Rawas dan Kota Lubuklinggau sudah dikeramatkan. Bujang Kurap adalah salah satu cerita rakyat Musi Rawas dan Kota Lubuklinggau yang mengisahkan kesaktian seseorang pada masa itu.




Bukit sulap juga terdapat fasilitas jalan beraspal, jika tidak ingin mendaki, para pengunjung juga bisa menikmati kesejukan dan keasrian kawasan hutan bukit sulap.walapun masih dalam kawasan kaki bukitnya,.. para pengunjung sudah bisa menikmati keindahan kota Lubuklinggau bagian wilayah Utara.



Monumen Subkos Garuda

Monumen Perjuangan Subkoss Garuda Sriwijaya ini terletak di sebelah utara lapangan Merdeka di hadapan Museum Subkoss Garuda Sriwijaya, dimana pada waktu peresmian Monumen , Museum Subkoss Garuda Sriwijaya masih merupakan Rumah Jabatan Bupati KDH TK.II Musi Rawas ( Museum Subkoss Garuda Sriwijaya akan di Posting pada artikel yang berbeda)

Salah satu tujuan di bangunnya Monumen Perjuangan Subkoss Garuda Sriwijaya ini adalah untuk melestarikan nilai-nilai juang dan kepahlawanan para pejuang kemerdekaan pada masa revolusi fisik tahun 1947-1949. pada waktu itu Kota Lubuklinggau merupakan pusat Pemerintahan sipil dan Pusat Komando Tertinggi TNI untuk wilayah Sumatera Bagian Selatan yaitu Sub Komando Sumetara Selatan (Subkoss)

Monumen ini di bangun pada tahun 1986 oleh pemerintah Kabupaten Musi Rawas atas prakarsa Gubernur KDH TK.I Sumsel H.Sainan Sagiman, dan diresmikan sekaligus penandatanganan Prasasti monument oleh Gubernur KDH TK.I Sumatera Selatan H.Sainan Sagiman pada tanggal 13 Februari 1987.

Tampak depan (dari sebelah selatan)


Tampak Belakang (dari sebelah utara)


Tampak samping ( dari sebelah barat)


Tampak samping ( dari sebelah timur )


Pada tanggal 15 Januari 1988, Menko Kesra RI LETJEND.PURN. H. Alamsyah Ratu Prawira Negara Meresmikan pemasangan nama-nama tokoh Pejuang Subkoss yang tertuang dalam prasasti pada batang tubuh Monument Perjuangan Subkoss Garuda Sriwijaya, meliputi :

{Untuk memperbesar & memperjelas gambar atau tulisan pada prasasti : silahkan di "KLIK"}
Personil TNI Subkoss periode Juli 1947 – Desembar 1948 Markas Komando di Lubuklinggau



Lima Brigade di bawahnya :
1. Brigade Garuda Merah / Sub Territorial Palembang (STP) Basis Kom.Muara Beliti.
2. Brigade Garuda Putih / Sub Territorial Djambi (STD) Basis Kom. Kota Jambi




3. Brigade Garuda Hitam / Sub Territorial Lampung (STL) Basis Kom. Tanjung Karang.
4. Brigade Garuda Emas / Sub territorial Bengkulu (STB) Basis Kom.Bengkulu.
5. Brigade Garuda Dempo Basis Kom.Pagar Alam



Foto di bawah ini adalah Monumen Perjuangan Subkoss Garuda Sriwijaya, pada saat pertama kali di resmikan,.. sebelum akhirnya di rombak/pugar menjadi monument yang terdapat pada foto diatas..




Monumen Perjuangan Subkoss Garuda Sriwijaya yang sekarang dapat kita lihat perbedaannya yaitu :
1.Tinggi monument sekarang lebih rendah dari yang dahulu.
2. Lambang Garuda Pancasila diganti dengan Lambang Burung Garuda seperti pada lambang Bendera Subkoss Garuda Sriwijaya.





Mesjid Agung Assalam


MASJID AGUNG biasanya merupakan sebutan untuk tempat ibadah (masjid) yang besar atau masjid tertua di suatu wilayah. Setiap kota di negeri ini yang penduduknya mayoritas beragama Islam, dapat dijumpai satu masjid yang menjadi sentra peribadatan umat muslim bernama Masjid Agung. Setiap masjid memiliki ciri khas arsitektur yang berbeda, apalagi berdirinya masjid tersebut seiring dengan sejarah negeri ini yang dahulu penduduknya mayoritas beragama Hindu. Makanya, untuk sebutan masjid tua atau besar masih memakai istilah Hinduisme, agung yang artinya besar...

Foto di atas adalah Masjid Agung Kota Lubuklinggau, sebuah kota yang orbitasinya paling jauh dari ibukota Provinsi Sumatera Selatan, Palembang. Berjarak 365 kilometer perjalanan darat, yang dapat ditempuh sekitar 6 jam dari Palembang, melalui jalan lintas tengah sumatera ke arah Provinsi Bengkulu.

Lubuklinggau merupakan kota sedang dari pemekaran Kabupaten Musi Rawas pada tahun 2003, dimana sebelumnya Lubuklinggau merupakan ibukota Kabupaten Musi Rawas. Sejak otonomisasi, banyak daerah di republik ini yang dimekarkan, termasuk Musi Rawas dan Lubuklinggau.

Sebenarnya di Kota Lubuklinggau ketika masih menjadi ibukota Kabupaten Musi Rawas, telah memiliki Masjid Agung (lama) di depan kantor Polres. Dan setelah pemekaran, didirikan lagi Masjid Agung (baru) di pusat kota, sebelah lapangan Merdeka. Karena Masjid Agung (lama) adalah aset Pemerintah Kabupaten Musi Rawas yang belum diserahkan ke Pemerintah Kota Lubuklinggau.

Selain Masjid Agung, aset dan fasilitas lainnya juga masih banyak yang belum serah terima. Seperti terminal bus, perkantoran, lapangan terbang, gedung olahraga dan stadion. Masing-masing meng"klaim" bertanggung jawab terhadap aset tersebut.

Untung saja Makam Pahlawan tidak dibagi dua, atau dibuat lagi Makam Pahlawan (baru). Atau, Bukit Sulap yang menjadi ikon dan lambang kedua daerah baik Musi Rawas maupun Lubuklinggau, tidak dibelah dua atau dicari Bukit Sulap (baru).

Masjid Agung yang idealnya selain tempat peribadatan, juga menjadi sentra pemersatu umat muslim di suatu wilayah. Bukan persaingan "prestise" atau rebutan aset. Bukan juga sebagai wacana saling pamer kemegahan dan ke"agung"an...

Jadilah contohnya Masjid Agung Lubuklinggau dan Masjid Agung Musi Rawas yang hanya berjarak kurang dari 1 kilometer saja, terpisah oleh rel kereta api, terminal dan pasar inpres. Sungguh ironi, dan bertendensi arogansi kekuasaan semata..



By : tornando.hengky@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar